Laman

Sabtu, 01 Juni 2013

Lingkungan dan masalah klasik seputar sampah

Barangkali Anda merasa tenang lingkungan tempat tinggal Anda bersih dan bebas sampah. Anda sudah membayar iuran dengan tertib, sampah dirumah juga setiap hari sudah ada yang mengambil dan mengangkut jauh dari rumah Anda, dan masalah sampah selesai.

Masalah sampah selalu ada.

Mungkin Anda yang bertempat tinggal di kawasan bagus tidak memiliki (lebih tepatnya tidak melihat) masalah sampah ini. Jangan salah, bagi orang yang tinggal di lingkungan sekitar TPS akan sangat merasakan, melihat dan membaui bahwa sampah adalah selalu menjadi sebuah masalah. Dari tempat pembuangan sementara, banyak lalat berterbangan, bau yang busuk, tidak bisa dipisahkan dari sampah. Banyak orang mengira kalau bisa mengurangi sampah dan melakukan penyelamatan lingkungan dengan cara melakukan pembakaran sampah. Padahal zat yang dihasilkan dari pembakaran sampah (dioksin) malah bisa menyebabkan kangker. Belum lagi masalah seperti mewabahnya penyakit karena timbunan sampah yang telat dimusnahkan atau diangkut seperti diare, sakit pernafasan, dan sebagainya.

Masalah yang muncul karena sampah di lingkungan sekitar dan pengelolaannya :

1. Jumlah dan volume sampah yang kian bertambah.

Jumlah penduduk yang semakin bertambah, sangat mempengaruhi jumlah sampah yang diproduksi. Keduanya berbanding lurus, karena sampah itu muncul dari hasil aktivitas manusia. Sampah dipisahkan berdasar sifatnya yang cair, padat dan gas. Sedangkan pengelompokan sampah organik dan non organik dilakukan berdasarkan kandungan zat kimia di dalamnya.

2. Sampah yang berserak akibat sebuah budaya.

Di negara kita, tulisan “Buanglah sampah pada tempatnya” atau “Dilarang membuang sampah sembarangan” sepertinya tidak berarti apa-apa. Buktinya masih banyak sampah yang berserakan diruang publik.

3. Membakar sampah sama dengan memproduksi emisi karbon.

Niatnya mengurangi volume sampah yang semakin besar dengan cara membakar sampah, akan tetapi cara ini baik dengan alat atau mesin sekalipun, justru mengakibatkan gas karbon di lapisan ozon semakin menebal, dan bisa menyebabkan efek rumah kaca yang dalam jangka panjang bisa sangat menghancurkan umat manusia, dan juga mempengaruhi perubahan iklim dalam jangka panjang.

4. Banjir.

Banjir adalah persoalan klasik yang selalu muncul pada musim hujan, padahal utamanya adalah pembuangan dan pengelolaan sampah yang tidak bagus.

Usaha mengatasi persoalan sampah.

Usaha yang paling baik dan bijaksana dalam mengatasi persoalan sampah di lingkungan kita adalah dengan metode zero waste, yaitu nol sampah. Tetapi kita belum bisa menggunakan metode ini. Bukti bahwa kita belum bisa melakukan zero waste ini adalah masih adanya sampah yang dibuang di tempat pembuangan akhir. Kalau gerakan ini sudah bisa dilakukan, sampah hanya sampai di TPS saja. Pada prinsipnya zero waste ini adalah gerakan 3R atau reduce, reuse dan recycle.

Reduce ini usaha yang paling dini mengatasi persoalan sampah di lingkungan sekitar, dengan cara meminimalisir sampah-sampah yang sekiranya akan kita hasilkan dalam aktivitas sehari-hari. Sebelum pergi berbelanja, sebaiknya kita sudah mempertimbangkan sampah yang akan timbul setelah barang kita beli. Kalau hasil belanjaan nanti tidak terlalu banyak nyampah, barulah kita beli. Yang kedua adalah reuse, atau gunakan kembali barang yang sudah ada, ketika akan membuang sebuah barang, pikirkan lagi untuk memanfaatkannya atau menggunakan kembali barang tersebut. Recycle, gerakan ini jauh lebih populer dibanding reduce dan reuse. Ini adalah usaha yang membutuhkan kreativitas karena kita akan merubah sampah menjadi barang yang memiliki nilai guna atau artistik. Persoalan klasik sampah dan juga persoalan lingkungan hidup pada umumnya bisa kita atasi, dengan memulainya dari diri kita sendiri, merubah kebiasaan mulai dari hal-hal yang kecil. Untuk perubahan yang besar, diperlukan banyak perubahan pada hal-hal yang kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar