Laman

Rabu, 10 April 2013

Langkah Sederhana Pelestarian Lingkungan

Isu lingkungan semakin disorot belakangan ini dan tidak bisa dimungkiri bahwa ras manusia sudah merasa terusik dengan perubahan kondisi alam yang ekstrem. Dengan semakin banyaknya korban jiwa akibat bencana alam yang seolah tidak ada habisnya dan kian hari kian tinggi intensitasnya, orang-orang tidak bisa mengelak lagi dari tanggung jawab untuk turut melestarikan alam dengan gerakan nyata penghijauan alias go green yang semakin gencar digalakkan.

Dari segala kampanye yang dilancarkan, kesadaran diri semestinya bisa menjadi awal untuk membantu menjaga alam dari kerusakan secara tak sengaja dan pengrusakan alam yang dilakukan secara sengaja. Saat kesadaran diri tumbuh, akan mempermudah proses pelestarian serta bila mampu, mengajak sesama untuk mulai mencintai lingkungan dan tidak bersifat merusak alam yang telah menaungi dan mengayomi hidup manusia.

Pelestarian Lingkungan: Skala Kecil

Tidak diperlukan langkah yang terlalu sulit dan rumit untuk mengawali gerakan go green. Membantu alam bisa dilakukan dengan tindakan cukup mudah dan masih di sekitar lingkungan sendiri. Sikap simpel pertama adalah dengan membuang sampah pada tempatnya dan diiringi dengan tidak membuang barang sembarangan ke sungai, saluran air (parit dan gorong-gorong), ataupun laut. Memilah dan memisahkan sampah yang mudah terurai dari yang sulit terurai agar proses pengolahan dan pengelolaan sampah menjadi lebih mudah bagi petugas sampah ataupun para pemerhati lingkungan. Pemerhati lingkungan lumrahnya akan membantu mendaur ulang sampah tersebut serta melakukan tindakan pemusnahan sampah atau limbah dengan metode yang tidak merusak lingkungan.

Turut berperan serta dalam gotong royong membersihkan lingkungan. Kerja bakti di satu lingkungan pemukiman jelas menjadi media tepat guna untuk merawat lingkungan selain mempererat tali silaturahmi antar tetangga. Berhematlah dalam penggunaaan listrik dengan cara menggunakan barang elektronik seperlunya atau mematikannya bila tidak sedang tidak dipakai, seperti lampu, komputer, pendingin ruangan, televisi, dan sebagainya. Tidak bergantung pada pendingin atau pemanas ruangan merupakan tindakan sangat produktif sebagai wujud rasa kasih sayang kepada Bumi.

Faktanya, selain karbondioksida dan karbonmonoksida hasil pembakaran (asap) bahan bakar fosil, pendingin ruangan (AC atau air conditioner) merupakan salah satu penyumbang terbesar pemanasan global. Menggunakan ulang kertas yang sudah pernah dipakai, misalnya kertas bekas coret-coretan atau kertas bekas print untuk membungkus barang lain. Mengurangi penggunaan kantung plastik (tas kresek), misalnya saja dengan membawa tas belanja sendiri. Tidak memanjakan diri dengan bergantung pada kendaraan pribadi bila hanya menempuh jarak bepergian yang cukup dekat. Bila masih sanggup, berjalan kaki dan naik sepeda pun jelas-jelas dapat menjadi solusi pola hidup sehat selain untuk mendukung pelestarian alam.

Pelestarian Lingkungan: Skala Besar

Menggunakan transportasi umum adalah langkah bijak, karena bukan sekadar membantu pemerintah mengurai kemacetan namun juga menjadi solusi melawan pemanasan global. Pemikiran ini memang tidak bisa berdiri sendiri, semakin banyak orang yang menyadari ini, efek positifnya tentu akan terasa nyata. Untuk level yang lebih tinggi, bisa melalui membuat rancangan bangunan (rumah) ramah lingkungan.

Rumah ramah lingkungan yang didesain untuk dapat memanfaatkan cahaya matahari seoptimal mungkin tentu sangat membantu dalam menghemat pemakaian listrik, hal ini tentu membantu juga dalam segi finansial, yakni mengurangi total tagihan listrik. Untuk mengatasi panas karena optimalisasi pemanfaatan tenaga matahari, optimalkan pula fungsi ventilasi sehingga banyak angin alami dan udara segar yang masuk ke dalam rumah. Dengan jendela dan ventilasi optimal, lingkungan rumah juga menjadi lebih sehat. Atau, kipas angin bisa menjadi alternatif bila memang tidak tahan pada cuaca panas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar