Laman

Kamis, 30 Mei 2013

Memberdayakan Sampah

Sampah. Ya, hal yang satu ini memang dilematis. Bagi kebanyakan orang, sampah itu kotor. Tentu saja, karena sampah membuat lingkungan tidak sedap dipandang. Selain itu sampah juga dapat menimbulkan berbagai macam bibit penyakit. Di kota-kota besar seperti Jakarta, sampah menjadi masalah yang sangat serius. Seperti kita ketahui, sampah-sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan banjir. Memang, dari struktur kotanya, Jakarta merupakan daerah rawan banjir. Namun sampah-sampah tersebut justru semakin memicu terjadinya banjir yang besar.

Sampah dikatakan sebagai sumber masalah. Tapi di sisi lain, bagi sebagian orang sampah adalah sumber kehidupan. Sampah dapat menghasilkan uang untuk dapat mencapai kesejahteraan. Bagaimana bisa? Bisa saja. Sampah merupakan ladang kehidupan bagi para pemulung. Sampah ditangan orang-orang kreatif dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai jual. Lalu bagaimana cara memanfaatkan sampah?

Jenis-jenis Sampah

Berdasarkan sifat kimianya, sampah dapat dibedakan menjadi dua kategori:
  1. Sampah organik, yaitu sampah yang mengandung senyawa organik dan tersusun oleh unsur karbon, oksigen, hydrogen dan nitrogen. Sampah organik ini mudah diuraikan oleh mikroba, misalnya daun-daunan, tulang, sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan lain sebagainya.
  2. Sampah anorganik, yaitu sampah yang tidak tersusun oleh senyawa organik dan sangat sulit diuraikan oleh mikroba, misalnya plastik, kaleng, besi, logam, dan lain sebagainya.

Berdasarkan fisiknya, sampah dapat dibedakan menjadi lima kategori:

1. Sampah kering (Rubbish), yaitu sampah yang tersusun dari unsur organik maupun anorganik yang tidak mudah membusuk, misalnya pipa, kaleng, kertas, kain, mika, keramik, dan lain sebagainya.

2. Sampah basah (Garbage), yaitu sampah yang tersusun dari unsure organik yang mudah membusuk, misalnya sisa makanan, buah-buahan, sayuran, dan lain sebagainya.

3. Sampah besar (Bulky waste), yaitu sampah yang mempunyai ukuran besar, seperti bekas furniture, peralatan rumah tangga, dan lain sebagainya.

4. Sampah lembut, yaitu sampah yang tersusun dari partikel yang kecil dan ringan sehingga mudah beterbangan, misalnya debu dan abu dari sisa pembakaran.

5. Sampah berbahaya dan beracun (Hazardous waste), yaitu sampah yang dapat membahayakan makhluk hidup. Sampah berbahaya dan beracun ini dapat dibagi lagi menjadi empat jenis, yaitu:

  • Sampah patogen, misalnya sampah yang berasal dari rumah sakit.
  • Sampah beracun, misalnya sisa-sisa pestisida atau insektisida, baterai bekas, serta kertas pembungkus bahan beracun.
  • Sampah ledakan, yaitu sampah yang mudah meledak, misalnya petasan, mesiu, sampah bekas perang, dan lain sebagainya.
  • Sampah radioaktif, yaitu sampah dari bahan-bahan nuklir.
Cara Memberdayakan Sampah

Salah satu cara tepat untuk memberdayakan sampah adalah dengan metode daur ulang. Apa maksudnya? Daur ulang sampah berarti mengubah barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi menjadi barang baru yang memiliki manfaat dan bernilai jual. Daur ulang sampah dapat mengurangi jumlah sampah di lingkungan. Selain itu juga dapat menghemat penggunaan bahan baku baru sehingga dapat menekan penggunaan energi dan mengurangi polusi sehingga dapat menghindari kerusakan lingkungan.

Pertama, pisahkan dulu sampah organik dan anorganik. Sampah organik dapat didaur ulang menjadi pupuk kompos yang dapat menyuburkan tanaman. Sementara itu, sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi berbagai macam kerajinan. Misalnya sampah plastik dapat dijadikan kerajinan tas, dompet, cover meja, dan lain sebagainya. Sampah dari bahan kertas dapat didaur ulang menjadi topeng, hiasan-hiasan, mainan, dan lain sebagainya. Sampah kaleng atau botol dapat didaur ulang menjadi tempat pensil, pot bunga, dan lain sebagainya. Selain unik, sampah daur ulang tersebut menjadi bernilai jual dan dapat menghasilkan uang. Selain itu, dengan usaha daur ulang sampah dapat menjaga keseimbangan ekosistem. Marilah mulai memberdayakan sampah dimulai dari lingkungan kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar