Hujan adalah berkah, begitu kata orang-orang mengenai hujan dan memang demikian adanya. Siklus hujan memberikan kita persediaan air yang cukup untuk digunakan dalam kehidupan sehari, seperti bercocoktanam. Namun, hujan dapat berbalik merusak manusia dengan banjir yang dibuatnya. Selain itu, hujan yang turun tidak selalu memberikan kebaikan, terlebih lagi bila hujan itu adalah hujan asam.
Hujan Asam
Hujan asam adalah hujan dengan kandungan asam (pH) 5,6. Dalam definisi ini hujan dengan kadar asam demikian sangat membantu dalam pelarutan mineral dalam tanah yang dibutuhkan hewan dan tumbuhan. Hujan asam juga dapat disebabkan oleh zat belerang/sulfur, yang terkandung dalam bahan bakar, dan nitrogen yang bereaksi dengan oksigen. Hasil reaksi ini, nitrogen oksida dan sulfur dioksida, nantinya berdifusi di atmosfer dan menghasilkan asam nitrat dan asam sulfat. Hujan yang mengandung kedua substansi ini yang tidak baik bagi tanaman dan tanah.
Peristiwa hujan asam ini ditemukan di wilayah Manchester yang terletak di negara Inggris yang menjadi bagian utama dalam revolusi industri yang terjadi pada abad ke-18. Fakta mengenai hubungan antara hujan asam dan polusi dikemukakan oleh Robert Angus Smith, yang juga menciptakan istilah “hujan asam”.
Tidak mengada-ada bila hujan asam memiliki hubungan yang erat dengan industri atau industrialisasi. Secara alami, kadar zat asam dalam air hujan diperoleh lewat letusan gunung yang aktif, aktivitas atau proses biologis di daerah rawa, darat, dan laut. Namun, sumber yang bertanggungjawab dalam terbentunya hujan asam yang merusak berasal dari emisi gas buang kendaraan bermotor yang kurang berkualitas, aktivitas industri seperti pembuangan asap dari cerobong asap milik pembangkit listrik, dan berbagai aktivitas industri.
Efek yang Diakibatkan
Hujan asam telah memberikan dampak negatif kepada tanah dan perairan, makhluk hidup yang tinggal di air, makhluk hidup yang hidup di darat, manusia, dan gedung-gedung.
Untuk hewan yang hidup di air atau hewan akuatik dampaknya dapat berupa telur ikan yang tidak akan menetas apabila ph dalam air lebih rendah dari 5 pH, bahkan kadar keasaman yang lebih kuat akan membunuh ikan dan hewan akuatik lainnya yang telah dewasa.
Dampak yang diberikan kepada tanah tidak begitu berbeda dengan yang terjadi dalam air. Mikroba tanah akan terbunuh karena tidak dapat beradaptasi dengan kadar asam yang ada. Selain itu, enzim yang dihasilkan mikroba ini akan mengalami perubahan struktur, yang berarti struktur yang telah berubah tidak akan memiliki kegunaan lagi untuk tanah.
Pengaruh hujan asam kepada tanah memang merugikan, namun bagi tanah pertanian hal ini dapat diatasi dengan menggunakan pupuk untuk mengganti mineral yang hilang dari tanah. Kasus berbeda terjadi pada tanah di daerah hutan. Hutan yang memiliki tanah yang tidak terolah tidak dapat mengganti kebutuhan mineral yang hilang terbawa aliran hujan asam. Efek lebih buruk terjadi di hutan wilayah dataran tinggi. Cuaca di dataran tinggi, dimana tingkat keberadaan awan sangat tinggi, memungkinkan terjadinya kabut dalam frekuensi yang lebih dekat. Kabut yang mengandung asam lebih mematikan daripada hujan asam dan dapat “membunuh” pepohonan.
Ancaman hujan asam terlihat nyata, namun kita masih dengan leluasa membakar bahan bakar lewat kendaraan pribadi kita. Hujan asam dapat menjadi lebih parah, namun juga dapat menjadi lebih baik bila kita bersama mencegahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar